![]() |
Studium Generale PIAUD UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Dorong Pengenalan Ekoteologi melalui Bermain Seni bagi Anak Usia DiniCirebon, 28 September 2026 — Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menyelenggarakan Studium Generale dengan mengangkat tema “Eko Art: Pengenalan Ekoteologi melalui Bermain Sains untuk Anak Usia Dini.” Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dari latar belakang keilmuan yang berbeda, yaitu Rofiqotul Aini, M.Pd.I., dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Jian Al Ma’arij, M.Pd., dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Teknologi Digital Bandung dan Ayu Vinlandari Wahyudi, M.Pd., dosen Seni PIAUD UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Kegiatan Studium Generale dibuka secara langsung oleh Dekan FITK Dr. H. Saifuddin, M.Ag., dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi forum akademik yang mempertemukan perspektif pendidikan Islam anak usia dini, ekoteologi, seni, dan kreativitas. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa PIAUD diajak memahami bahwa pengenalan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan dapat dilakukan sejak usia dini melalui pendekatan yang dekat dengan dunia anak, salah satunya melalui aktivitas bermain seni. Sementara itu Ketua Jurusan PIAUD Jazariyah, M.Pd., menyampaikan bahwa Konsep Eko Art menjadi salah satu pendekatan kreatif untuk memperkenalkan hubungan antara manusia, lingkungan, dan nilai-nilai spiritual. Melalui kegiatan seni yang memanfaatkan pengalaman anak dalam berinteraksi dengan lingkungan, anak dapat diajak mengenal alam sekaligus mengembangkan kreativitas, imajinasi, kepekaan, dan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Narasumber Rofiqotul Aini, M.Pd.I. memberikan penguatan perspektif ekoteologi, yaitu pemahaman mengenai hubungan manusia dengan lingkungan dalam perspektif keagamaan. Dalam konteks pendidikan Islam, alam tidak hanya dipandang sebagai ruang tempat manusia hidup, tetapi juga sebagai bagian dari ciptaan Allah SWT yang memiliki nilai dan harus dijaga keberlangsungannya. Pengenalan ekoteologi pada anak usia dini perlu dilakukan melalui pengalaman konkret dan sederhana. Anak dapat diajak mengenali keindahan dan keberagaman alam melalui kegiatan menggambar, membuat karya seni dari bahan alam yang aman, mengamati tumbuhan, mengenal hewan, memanfaatkan kembali benda yang sudah tidak terpakai, hingga menciptakan karya yang terinspirasi dari lingkungan sekitar. Pendekatan tersebut menjadikan aktivitas seni bukan sekadar kegiatan untuk menghasilkan sebuah karya, tetapi juga sebagai media pembentukan karakter. Anak dapat belajar mengenal, menghargai, dan mencintai lingkungan melalui pengalaman yang menyenangkan dan sesuai dengan karakteristik perkembangan mereka. Sementara itu, Jian Al Ma’arij, M.Pd. memberikan perspektif dari bidang Desain Komunikasi Visual mengenai pentingnya kreativitas dan komunikasi visual dalam pembelajaran. Seni dapat menjadi bahasa yang mudah dipahami anak untuk mengekspresikan pengalaman dan gagasan mereka tentang lingkungan. Menurut Ayu Vinlandari Wahyudi, M.Pd., selaku narasumber ketiga menyampaikan bahwa melalui karya seni, anak memiliki ruang untuk menuangkan hasil pengamatan terhadap alam dalam bentuk gambar, warna, bentuk, kolase, maupun berbagai karya kreatif lainnya. Proses tersebut sekaligus dapat mengembangkan kemampuan motorik, kreativitas, komunikasi, pemecahan masalah, serta kemampuan anak dalam menginterpretasikan pengalaman di lingkungan sekitarnya. |
![]() |
Menghubungkan Pendidikan Anak Usia Dini dengan SDGsKegiatan Studium Generale ini memiliki relevansi dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas (Quality Education). Pendidikan anak usia dini merupakan bagian penting dalam membangun fondasi perkembangan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan karakter anak. Melalui pendekatan bermain seni yang terintegrasi dengan nilai lingkungan dan spiritual, pembelajaran dapat diarahkan tidak hanya untuk mengembangkan kemampuan individual anak, tetapi juga membangun kesadaran mengenai kehidupan yang berkelanjutan. Konsep Eko Art juga memiliki keterkaitan dengan SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Penggunaan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan, termasuk pemanfaatan kembali material yang aman dan layak digunakan, dapat menjadi pengalaman awal bagi anak untuk mengenal prinsip pemanfaatan sumber daya secara bijaksana. Selain itu, pengenalan lingkungan melalui aktivitas seni memiliki relevansi dengan SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim dan SDG 15 tentang Ekosistem Daratan. Meskipun anak usia dini belum diperkenalkan pada persoalan perubahan iklim secara kompleks, nilai kepedulian dapat ditanamkan melalui pengalaman sederhana, seperti mencintai tumbuhan, tidak merusak lingkungan, menjaga kebersihan, menggunakan bahan secara bijak, dan mengenal keberagaman makhluk hidup. Dengan demikian, pendidikan keberlanjutan bagi anak usia dini tidak harus selalu disampaikan melalui konsep yang kompleks. Nilai tersebut dapat ditanamkan melalui kegiatan bermain yang konkret, menyenangkan, kontekstual, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Ekoteologi sebagai Penguatan Pendidikan KarakterIntegrasi ekoteologi dalam pembelajaran anak usia dini memberikan dimensi yang lebih mendalam terhadap pendidikan lingkungan. Anak tidak hanya diarahkan untuk mengetahui bahwa lingkungan harus dijaga, tetapi juga diperkenalkan pada nilai bahwa alam merupakan bagian dari ciptaan Tuhan yang patut dihargai dan dirawat. Perspektif tersebut dapat memperkuat pendidikan karakter berbasis nilai keislaman. Sikap menjaga kebersihan, merawat tumbuhan, menyayangi makhluk hidup, menggunakan sumber daya secara bijak, serta tidak melakukan tindakan yang merusak lingkungan dapat diperkenalkan sebagai bagian dari pembiasaan sehari-hari. Dalam konteks ini, seni dapat menjadi media yang efektif karena memungkinkan anak belajar melalui pengalaman langsung. Anak dapat mengamati alam, mengolah pengalaman tersebut menjadi karya, kemudian memperoleh kesempatan untuk menceritakan dan merefleksikan hasil karyanya. Proses tersebut mempertemukan unsur kognitif, afektif, motorik, kreativitas, dan spiritualitas dalam satu pengalaman pembelajaran. Membekali Mahasiswa PIAUD sebagai Calon PendidikBagi mahasiswa PIAUD, Studium Generale ini memberikan wawasan bahwa pendidik anak usia dini memiliki peran penting dalam membangun fondasi kesadaran lingkungan sejak masa awal perkembangan anak. Mahasiswa sebagai calon pendidik diharapkan mampu mengembangkan pembelajaran yang kreatif dan kontekstual dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar. Pendekatan bermain seni dapat dikembangkan menjadi berbagai kegiatan pembelajaran yang sederhana namun memiliki makna, seperti membuat karya dari bahan alam, menggambar lingkungan sekitar, menciptakan kolase bertema keanekaragaman hayati, atau membuat karya kreatif dari material yang dapat digunakan kembali. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai metode pembelajaran, tetapi juga didorong untuk memiliki perspektif yang lebih luas mengenai peran pendidikan anak usia dini dalam menjawab tantangan keberlanjutan. Studium Generale “Eko Art: Pengenalan Ekoteologi melalui Bermain Sains untuk Anak Usia Dini” menjadi bagian dari upaya Jurusan PIAUD FITK UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon dalam memperkaya wawasan akademik mahasiswa melalui kolaborasi lintas disiplin. Integrasi pendidikan Islam, seni, kreativitas, dan kepedulian lingkungan diharapkan dapat melahirkan gagasan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan anak sekaligus responsif terhadap agenda pembangunan berkelanjutan. Melalui pembelajaran yang berangkat dari dunia anak—bermain, berkarya, mengamati alam, dan berekspresi—nilai-nilai ekoteologi dapat dikenalkan secara lebih dekat dan bermakna. Dengan demikian, pendidikan anak usia dini tidak hanya menjadi ruang untuk mengembangkan potensi anak, tetapi juga menjadi salah satu fondasi dalam membangun generasi yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan memahami tanggung jawabnya sebagai bagian dari kehidupan yang berkelanjutan. |
SDGs 4 - Quality Education
SDGs 12 - Responsible Consumption and Production
SDGs 13 - Climate Action
SDGs 15 - Life on Land
Bagikan Artikel:

